✨ MTI Industrial Forum – Februari 2026
Menyongsong implementasi pasar karbon skala penuh yang ditargetkan Pemerintah Indonesia pada pertengahan tahun 2026, Program Studi Magister Teknik Industri (MTI) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan MTI Industrial Forum pada 20 Februari 2026. Acara yang digelar secara hybrid (onsite dan online) ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, serta pelaku industri untuk membedah tantangan keberlanjutan dalam rantai pasok global.
Forum ini menghadirkan pakar logistik internasional, Prof. Dr. rer. pol. Michael Dircksen, M.Sc. dari Münster School of Business, FH Münster, Jerman. Mengusung topik “Strategic Network Design for Sustainability: Balancing Costs, Service Levels, and Carbon Footprints”, agenda ini menjadi krusial bagi industri di Indonesia yang kini dituntut untuk menyeimbangkan profitabilitas dengan kepatuhan standar jejak karbon yang semakin ketat. Lebih tepatnya, tentang bagaimana perusahaan dapat mencari strategi keberlanjutan (sustainability) dalam menerapkan Supply Chain dalam melakukan bisnisnya.
Dalam paparannya, Prof. Michael menekankan bahwa logistik tidak lagi boleh dipandang sekadar fungsi pendukung operasional, melainkan harus menjadi bagian inti dari desain strategis perusahaan. Beliau menjelaskan pentingnya menyeimbangkan tiga pilar keberlanjutan (sustainability) dalam melakukan bisnis di perusahaan, yaitu faktor People (Manusia), Planet (Lingkungan), dan Profit (Keuntungan). “Kita harus mengoptimalkan biaya (cost), kecepatan layanan (service level), dan keberlanjutan (CO2 Efficiency) secara simultan,” ujar Prof. Michael.
Salah satu tantangan utama yang digarisbawahi adalah adanya trade-off dalam logistik, sehingga menuntut pemimpin industri untuk memikirkan langkah strategis di tengah pertukaran kepentingan. Contohnya, penggunaan transportasi udara memang sangat cepat, namun menghasilkan emisi CO₂ hingga sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan transportasi laut per tonase muatan. “Perbedaan ini menegaskan bahwa pemilihan moda transportasi memiliki implikasi signifikan terhadap jejak karbon rantai pasok, khususnya pada distribusi barang dalam skala besar dan jarak jauh,” jelas Prof. Michael. Ia menyebut, strategi yang matang dibutuhkan dalam menentukan moda transportasi mana yang paling optimal berdasarkan jenis produk dan target emisi perusahaan.
Selain itu, keberlanjutan bukan hanya soal efisiensi (doing things right), tetapi juga efektivitas (doing the right things). Perusahaan harus menetapkan tujuan strategis yang tepat (misalnya pengurangan limbah atau meminimalkan penggunaan energi). Prof. Michael menyarankan penggunaan alat digital, kecerdasan buatan (AI) untuk peramalan permintaan (forecasting), serta penerapan prinsip Lean Management untuk mengeliminasi pemborosan (waste) di sepanjang rantai pasok guna mengeliminasi pemborosan (waste) di sepanjang rantai pasok. Hal ini terbukti mampu menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan performa layanan secara simultan.
Sebagai contoh nyata, Prof. Michael memaparkan studi kasus ”Picnic”, sebuah startup layanan bahan pangan sehari-hari rumah tangga di Belanda dan Jerman yang mencoba merevolusi logistik model Milkman. Masyarakat tidak perlu berbelanja ke supermarket tetapi cukup memesan kebutuhannya melalui aplikasi mobile yang disediakan. Perusahaan kemudian akan mengantarkan pesanan tersebut ke
rumah dengan menggunakan armada kendaraan listrik dan perencanaan rute pintar. Hal ini digunakan untuk menekan limbah makanan rumah tangga serta mengurangi transportasi yang harus ditempuh oleh tiap rumah tangga ke supermarket.
“Karena barang yang dibutuhkan telah dipesan sebelumnya, maka otomatis perusahaan juga dapat memperkirakan kebutuhan barang yang dijual dengan lebih tepat, sehingga mengurangi barang yang rusak/busuk. Perusahaan juga otomatis tidak perlu memiliki toko fisik yang besar. Strategi ini dapat menjadi inspirasi bagi efisiensi distribusi di kota-kota besar Indonesia,” kata Prof. Michael.
Penyelenggaraan forum ini juga menjadi bentuk respon edukatif UK Petra terhadap target pemerintah untuk meluncurkan pasar karbon secara penuh pada pertengahan 2026. Dengan adanya regulasi tersebut, perusahaan-perusahaan di Indonesia akan menghadapi urgensi untuk menghitung dan melaporkan jejak karbon mereka. Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra, Handy Wicaksono, Ph.D., menyampaikan bahwa forum ini merupakan kesempatan belajar yang luar biasa bagi pelaku industri untuk memahami cara tetap kompetitif di tengah tuntutan ekonomi hijau.
“Melalui MTI Industrial Forum, UK Petra berkomitmen untuk terus memfasilitasi transfer pengetahuan antara pakar global dan praktisi domestik. Hal ini diharapkan dapat membantu industri Indonesia dalam merancang jaringan logistik yang tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga tepat sasaran dalam mencapai target dekarbonisasi,” tutup Handy Wicaksono. (MTI/Mel)


